Sabtu, 24 Oktober 2020

Tangan Dingin Bill Nicholson di Balik Kejayaan Tottenham 1960-an

Bill Nicholson. FOTO/tottenhamhotspur.com/

Postingan  kedua ini akan membahas sosok Bill Nicholson, sosok pelatih Tottenham Hotspur yang namanya diabadikan menjadi nama jalan menuju Tottenham Hotspur Stadium. langsung saja Cekidot 

Karier William Edward Nicholson sebagai pesepak bola memang tidak setenar Alfredo di Stefano atau Ferenc Puskas yang meraih berbagai penghargaan individu. Legenda yang beken dengan panggilan Bill Nicholson ini mengawali karier profesionalnya bersama Tottenham Hotspur saat melawan Blackburn Rovers pada 22 Oktober 1938.

Sejak itu, sosoknya selalu lekat dengan Tottenham. Di bawah asuhan manajer Arthur Rowe, Nicholson diplot mengisi posisi bek tengah. Bersama pelatih yang terkenal dengan gaya bermain push and run itu, Nicholson meraih gelar juara Liga Inggris di musim 1950/1951. Nicholson mencatatkan 341 pertandingan bersama Tottenham hingga pensiun pada musim 1954/1955.

Meski moncer di klub, kariernya di level tim nasional sungguh singkat. Nicholson hanya sempat membela The Three Lions saat menghadapi Portugal pada 1951. Kala itu, dia mencetak 1 gol.

Pada masa akhir sebagai pemain, Nicholson mengikuti kursus kepelatihan Football Association (FA) dan sempat melatih di Cambridge University. Nicholson lalu kembali ke Spurs kala ditunjuk menjadi asisten manajer oleh Jimmy Anderson—pengganti Arthur Rowe.

Tiga tahun kemudian, Nicholson dipercaya mendampingi manajer Timnas Inggris Walter Winterbottom di Piala Dunia 1958. Kejeniusannya menganalisis pertandingan berhasil membawa The Three Lions menahan imbang juara bertahan Brazil 0-0.

Awal Karier Manajer yang Gemilang

Dalam autobiografi Glory, Glory: My Life With Spurs, Nicholson menceritakan bagaimana kisahnya saat diangkat menjadi manajer menggantikan Jimmy Anderson.

Pada awal Oktober 1958, vice-chairman Tottenham Fred Wale menawarkan kepadanya untuk menggantikan Anderson. Namun, Wale tidak membahas kenaikan gaji atau menawarkan kontrak baru. Nicholson sendiri sebenarnya tidak terlalu memikirkan soal ada atau tidaknya kontrak baru. Pasalnya, siapa pun pasti akan dipecat kalau kinerjanya tidak memuaskan, meski ada kontrak sekali pun.

Jadi, Nicholson langsung menerima tawaran itu tanpa membahas persoalan kontrak. Nicholson cukup percaya diri dengan pengalamannya selama empat tahun belakangan sebagai asisten manajer. Dia juga pernah bekerja sebagai instruktur fisik di Durham Light Infantry saat Perang Dunia II berkecamuk. Pengalaman itu dirasanya juga cukup mengasah keahlian manajerialnya.

 Debutnya sebagai manajer Spurs berjalan cukup mengesankan. Di pertandingan pertamanya sebagai manajer, dia sukses memimpin Tottenham mencundangi Everton dengan skor telak 10-4. Kemenangan itu terbilang istimewa karena Nicholson mengambil alih komando kala performa klub sedang buruk. Saat itu, Tottenham berada di urutan ke-17 dari 22 klub yang berlaga di Divisi Pertama Liga Inggris musim 1958/59.


Dengan segala keterbatasan yang ada, Nicholson mampu menyelamatkan Tottenham dari jurang degradasi. Tottenham berhasil finis di posisi ke-18 di akhir. Dari total 12 pertandingan yang dilakoninya selama sisa musim itu, Nicholson mampu memenangkan sembilan pertandingan.

Selain piawai meramu taktik dan menganalisis lawan, Nicholson juga lihai menilai potensi pemain yang dibutuhkan oleh klub. Sebelum musim 1959/60 bergulir, Nicholson merekrut sejumlah pemain seperti Les Allen, Bill Brown, Dave Mackay, dan John White untuk membenahi performa klub yang sedang terpuruk.

Para rekrutan baru pilihan Nicholson itu berhasil membantu Tottenham memenangi 12 laga berturut-turut di awal musim. Nicholson menduetkan Les Allen yang diboyong dari Chelsea dengan Bobby Smith di lini depan. Keduanya lantas menjelma jadi sosok menakutkan bagi pertahanan tim lawan. Allen mencetak 23 gol, sementara Bobby berhasil mencatatkan 33 gol. Di akhir musim, Tottenham sukses melejit ke posisi ke-3 klasemen akhir Liga Inggris.

Menorehkan Berbagai Rekor

Nicholson hanya membutuhkan satu setengah musim untuk membangun skuad yang solid. Musim 1960/61 menjadi tahun yang bersejarah bagi Nicholson karena berbagai rekor yang dicapainya.

Di atas kertas, manajer kelahiran 26 Januari 1919 itu punya skuad mumpuni. Dia punya penyerang tajam macam Bobby Smith dan Les Allen, pemain sayap Cliff Jones dan Terry Dyson, hingga kapten tim Danny Blanchflower yang mampu mendukung taktik push and run.

Dengan skuad itu Spurs berhasil memenangi 11 laga pertama musim 1960/61. Torehan ini menjadi tengara awal masa keemasan Tottenham Hotspur. Spurs merhasil merebut gelar juara Liga Inggris musim itu dan sekaligus menjadi kampiun FA Cup. Ia menjadi klub pertama yang meraih double winners di abad ke-20.

Di musim berikutnya, meski gagal menjuarai Liga Inggris, Nicholson berhasil memimpin Tottenham mempertahankan gelar FA Cup. Dia juga berhasil merekrut pemain yang kemudian didapuk sebagai penyerang terbaik dalam sejarah Tottenham Hotspur: Jimmy Greaves.

Tottenham mendatangkan Greaves ke White Hart Lane dari AC Milan dengan nilai transfer £99,999 pada Desember 1961. Greaves menorehkan 266 gol dari total 379 laga selama berseragam Tottenham. Dia merupakan salah satu rekrutan terbaik Nicholson. Dalam autobiografinya, Nicholson mengaku tertarik memakai jasa Greaves sejak dia masih membela Chelsea.

“Saya ingin merekrutnya sejak melihatnya mencetak gol pertamanya di Liga Inggris saat debut bersama Chelsea di White Hart Lane. Sungguh, itu gol yang luar biasa! Dia mengalahkan tiga pemain bertahan sebelum menceploskan bola ke gawang. Dia memiliki dalam improvisasi permainan dan kejeniusan,” tulis Nicholson.

Kemampuan Greaves semakin terasah di bawah asuhan Nicholson. Sebelum final UEFA Winners Cup 1963, Greaves sudah 42 kali mencatatkan namanya di papan skor. Jimmy menambah dua gol lagi saat Tottenham mengalahkan Atletico Madrid dengan skor 5-1 pada final UEFA Winners Cup. Kemenangan ini menjadikan Tottenham sebagai klub Inggris pertama yang menjuarai kompetisi level Eropa.

Pada musim 1964 hingga 1966, Nicholson merekrut lagi beberapa pemain berbakat untuk memperkuat Tottenham. Di antaranya Pat Jennings, Alan Gilzean, Cyril Knowles, Terry Venables, Alan Mullery, dan Mike England. Skuad yang makin komplet itu membuat Tottenham semakin tak terbendung dalam beberapa musim selanjutnya.

Pencapaian tertinggi Nicholson selama melatih Tottenham dicapai pada musim 1971/72. Dia berhasil membawa Tottenham menjuarai UEFA Cup—membuat Spurs tercatat sebagai klub Inggris pertama yang menjuarai dua kompetisi level Eropa yang berbeda.

Saat Nicholson pensiun melatih Tottenham pada 29 Agustus 1974, dia telah mempersembahkan delapan gelar juara di semua kompetisi besar domestik dan Eropa serta tiga trofi minor. Tahun-tahun keemasan Tottenham Hotspur bersama Nicholson dikenang para pendukungnya sebagai The Glory Glory Years.

Dedikasi Mr. Tottenham

Dedikasi Nicholson kepada Tottenham tidak berhenti, meski dia pensiun melatih. Setelah sempat menjadi penasihat West Ham United, Nicholson akhirnya kembali ke “rumah” pada 1976 dan ditugasi menjadi kepala pemandu bakat.

Sebagai pemandu bakat, Nicholson mendatangkan Gary Mabbutt dari Bristol Rovers. Seperti Greaves, Mabbutt juga merupakan salah satu rekrutan terbaik pilihan Nicholson. Selama berseragam Tottenham, Mabbutt mencatatkan 611 penampilan di seluruh kompetisi dan menjadi kapten tim selama 11 tahun.

Kecintaan Nicholson terhadap sepak bola dan Tottenham berbalas berbagai penghargaan individu. Di antaranya dia terpilih sebagai Bell’s Scotch Whisky Manager of the Month pada September 1970. Asosiasi pesepak bola profesional juga menganugerahinya PFA Merit Award pada 1984. Untuk menghormati dedikasi seumur hidupnya pada Tottenham, namanya lalu diabadikan jadi nama jalan menuju stadion White Hart Lane.

Usai pensiun dari jabatannya di klub pada Juli 1997, Nicholson rupanya tidak pernah mau pensiun dari dunia sepak bola. Hingga wafat pada 23 Oktober 2004, Nicholson selalu tak pernah jauh dari White Hart Lane. Para fan Tottenham mengenangnya sebagai Mr. Tottenham—manajer tersukses sepanjang sejarah klub yang mendedikasikan hidupnya untuk Totteham.

 

Infografik Bill Nicholson    

Sumber : https://tirto.id/tangan-dingin-bill-nicholson-di-balik-kejayaan-tottenham-1960-an-f5ZB

Lahir : Scarborough, North Riding of Yorkshire ( 26 Januari 1919)

Meninggal :  Hertfordshire ( 23 Oktober 2004)

Walter Tull: Kisah Pesepakbola & Prajurit Pendobrak Sekat-Sekat Ras

 Walter Tull. FOTO/N/A /en.wikipedia.org/

Hello Guys  udh lama gak posting Blog. kali ini gue akan membahas 2 artikel Tirto tentang 2 Pemain Tottenham Hotspur jaman dulu. yang pertama akan kita bahas sosok Walter Tull, pemain Tottenham Hotspur berkulit hitam pertama di Tottenham Hotspur. Jauh sebelum Benoit Assou Ekotto, Sol Campbell & Didier Zokora, Tottenham Hotspur mengenal sosok Walter Tull. langsung saja cekidot. 

Nama Walter Tull mungkin terdengar asing di telinga banyak pecinta sepak bola hari ini. Kariernya sebagai pemain sepak bola profesional memang sangat singkat, hanya sekitar lima tahun sejak pertama kali membela Tottenham Hotspur pada 1909. Namun, pencapaiannya di kancah sepak bola telah membuka peluang bagi pemain sepak bola berkulit hitam lainnya.

Dilahirkan pada tahun 1888, Tull hidup di masa yang sulit bagi orang-orang berkulit hitam. Sejak kecil, ia dihadapkan pada berbagai rintangan. Ketika belum genap 10 tahun, Tull kehilangan ibunya yang meninggal dunia akibat kanker. Sementara ayahnya, Daniel Tull, meninggal karena serangan jantung 2,5 tahun pasca kepergian ibu nya. Tull kecil sempat diasuh oleh ibu tiri, Clara, yang merupakan sepupu dari ibunya.

Besarnya biaya menghidupi enam anak memaksa Clara menyerahkan Tull dan Edward, saudara laki-laki kandungnya, ke sebuah panti asuhan di London Timur. Saat proses mengurus kepindahan Tull bersaudara, panti asuhan tersebut sempat mendapat surat dari organisasi amal setempat yang memperingatkan bahwa ayah kedua anak ini merupakan seorang berkulit hitam. Beruntung, pengurus panti asuhan tidak mempedulikan surat tersebut.

Tull tinggal di panti asuhan selama tujuh tahun. Edward lebih dulu diadopsi oleh pasangan dari Glasgow. Setelah ditinggal saudaranya, Tull menghabiskan waktu dengan bermain sepak bola untuk tim panti asuhan. Tull berposisi sebagai bek kiri. Kehebatannya mengolah kulit bundar tercium oleh klub amatir Clapton FC yang kemudian mengontraknya sebagai pemain. Sejak awal, penampilan Tull langsung memukau dan berhasil membantu Clapton FC menjuarai Amateur Cup, London Senior Cup, dan London County Amateur Cup.

Klub-klub profesional pada masa itu sering mencari pemain berbakat di liga amatir. Kegemilangan Tull selama musim pertamanya bermain di liga amatir memikat perhatian salah satu klub besar, Tottenham Hotspur, yang langsung mengundangnya ikut tur pra-musim mereka di Argentina.

Di liga profesional, ada regulasi yang membatasi gaji pemain sebesar £4 per minggu. Regulasi ini membangun kesadaran politik para pemain sepak bola. Sebagian pemain, termasuk Tull, menghadapi dilema persoalan moralitas. Sedangkan pemain lainnya mulai memperjuangkan haknya melalui pembentukan serikat pekerja.

Tekanan moral yang dihadapi Tull tidak sebanding dengan apa yang akan didapatkannya jika menjadi pemain profesional. Kenyataan sosial, ekonomi, dan politik mampu mengalahkan persoalan moral yang dihadapi Tull. Sebagai pemain berkulit hitam yang berkarier, menjadi pemain profesional di tengah diskriminasi rasial merupakan sebuah kemajuan besar bagi tercapainya cita-cita kesetaraan.

Tottenham secara resmi mendatangkan Tull dari Clapton FC dengan nilai transfer sebesar £10, nilai maksimal yang diperbolehkan di era tersebut. Sementara Tull mendapatkan upah sebesar £4 per minggu. Pada 1 September 1909, Tull bermain untuk pertama kalinya di kasta tertinggi Liga Inggris saat melawan Sunderland. Pertandingan ini sekaligus menjadikan Tull pemain profesional berkulit hitam pertama yang merumput di Inggris. Tull mencetak gol pertama saat Spurs dikalahkan Bradford dengan skor 5-1.

Dikutip dari laman Sky History, Penampilan perdana Tull langsung mencuri perhatian para jurnalis olahraga. Para wartawan olahraga menggambarkan Tull sebagai pemain yang mampu memukau semua orang, memiliki ketenangan dan akurasi umpan yang luar biasa.

Sayangnya, Tull hanya bertahan sekitar dua musim di Spurs dan lebih banyak bermain untuk tim reserves. Performa Tull selama membela Spurs sebenarnya lebih banyak menuai pujian alih-alih kritik. Alasan dibalik dipindahkannya Tull ke tim reserves menuai banyak perdebatan. Dalam “Walter Daniel Tull, 1888-1918: soldier, footballer, Black”yang terbit di jurnal Race and Class (1996), Phil Vasili mengungkapkan ada kemungkinan tekanan sosial kepada klub yang berperan, terutama saat Tull mendapatkan serangan rasisme di pertandingan melawan Bristol City.

Pada musim 1911/1912, Tull pindah ke klub yang bermain di Southern League, Northampton Town yang dilatih oleh manajer Herbert Chapman. Tull membela Northampton sebanyak 110 pertandingan dengan torehan sembilan gol. Penampilan Tull bersama Northampton sempat menarik minat Glasgow Rangers untuk merekrutnya. Sayangnya, Perang Dunia I pecah sehingga kepindahan Tull tidak pernah terwujud.
 

Masuk Militer

Pada akhir 1914, Tull mendaftar sebagai prajurit dan menjadi bagian dari batalion sepak bola pertama di resimen Middlesex. Tahun perdananya sebagai tentara dihabiskan di Inggris sebagai persiapan sebelum diterjunkan ke medan perang. Batalionnya baru dikirimkan ke Perancis pada November 1915 ke tempat yang jaraknya hanya beberapa mil dari lokasi pertempuran.

Batalion sepak bola pertama baru diturunkan pada pertempuran Somme yang pada hari pertamanya menelan korban lebih dari 60.000 orang dari pihak Britania Raya. Dalam pertempuran terakhir batalion ke-17 dari resimen Middlesex, 400 tentara diterjunkan. Hanya sekitar 79 prajurit yang selamat.

Peperangan di Somme membuat Tull menderita “Shell Shock” atau yang hari ini dikenal sebagai post-traumatic stress disorder (PTSD). Walhasil, Tull sempat dipulangkan ke Inggris untuk menjalani perawatan. Setelah menjalani rehabilitas, Tull mengikuti program pelatihan perwira pada 1917.

Peraturan militer Inggris pada masa tersebut sebenarnya melarang rektrutmen tentara dari “ras campuran” yang boleh memberi perintah atau instruksi kepada tentara berkulit putih. Singkatnya, tidak boleh ada tentara berkulit hitam yang pangkat atau jabatannya diatas tentara “eropa murni”. Namun, Tull berhasil mengikuti program pelatihan perwira di Gailes dan lulus dengan pangkat letnan dua. Keberhasilan Tull membuatnya menjadi orang berkulit hitam pertama yang menjadi perwira pasukan Inggris.

Masih merujuk catatan Vasili, ada beberapa kemungkinan mengapa Tull bisa diterima mengikuti program pelatihan perwira. Salah satunya karena anggota batalion Tull diisi oleh sesama pemain sepak bola. Banyak dari mereka yang saling mengenal dan memiliki ikatan tersendiri. Di antara para pemain sepak bola yang menjadi tentara, mereka tidak melihat dari warna kulit Tull, melainkan kemampuannya diatas lapangan yang juga bisa berguna di medan pertempuran.

Tugas pertama Tull sebagai perwira berhasil dijalankan dengan baik. Ia membawa pasukannya melewati garis musuh tanpa korban jiwa sehingga menuai pujian. Berbagai pertempuran berlalu di bawah komandonya hingga tibalah sebuah akhir tragis dalam serangan Jerman 1918.

Di wilayah tak berpenghuni, Tull tertembak dan langsung meninggal di tempat. Seorang prajurit sesama pesepakbola mencoba membawa pulang jasadnya, akan tetapi tidak berhasil. Hingga kini jasad Tull tidak pernah ditemukan.

Sebagai pahlawan perang, sudah sepantasnya Tull mendapatkan penghargaan Military Cross. Menurut Vasili, dikutip dari Sky History, alasan kuat dibalik tidak diberikannya penghargaan kepada Tull adalah mereka yang berkuasa tidak mau mengakui telah melakukan pelanggaran karena mengirim tentara kulit hitam ke medan perang.

Terlepas dari tidak adanya penghargaan Military Cross dan kariernya yang singkat di dunia sepak bola, Tull meninggalkan begitu banyak warisan yang berkontribusi pada perjuangan kesetaraan ras hari ini.

Infografik Walter Tull

 

 Sumber : https://tirto.id/walter-tull-kisah-pesepakbola-prajurit-pendobrak-sekat-sekat-ras-f5Zz

 Walter Tull 

Lahir : Folkestone , Inggris ( 28 April 1888)

Meninggal : dekat Favreuil, Pas-de-Calais , Perancis ( 25 Maret 1918)

Sabtu, 17 Oktober 2020

Kisah Sidi Tando Sang Juragan Cat Nasional

Ilustrasi cat sidolin. tirto.id/Fuad

Postingan berikutnya akan membahas sosok Sidi Tando, pengusaha Cat dari Minangkabau yang sangat melegenda dengan Merek Catnya, Sidolin. 

Sidi Tando adalah seorang pengusaha yang terkenal di zaman Sukarno. Ia disejajarkan dengan Rahman Tamin, Omar Tusin, dan Soedarpo. Menurut Ali Akbar Navis dalam Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (1984:133) "Sidi" adalah gelar pada awal nama depan, seperti juga "Bagindo" dan "Sutan" di Pariaman.

“Bagindo Sulaiman bagi yang bernama Sulaiman, dan Sidi Tando bagi yang bernama Tando. Gelar ini merupakan warisan ayahnya. Kalau ayahnya bergelar Sutan, maka anaknya Sutan. Demikian pula gelar Bagindo dan Sidi,” tulisnya.

Seperti dicatat Mestika Zed dalam Saudagar Pariaman: Menerjang Ombak Membangun Maskapai (2017:326), Sidi Tando dan Hasanah, istrinya, mempunyai beberapa anak, salah satunya bernama Hansra Tando yang lahir di Jakarta pada 6 Januari 1936. Anak lainnya adalah Syarif Tando yang juga lahir Jakarta pada 20 Oktober 1942, ia pernah jadi Ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia).

Selain dengan Hasanah, seperti dimuat Tempo (27/09/1975), Sidi Tando juga pernah menikah dengan Farida—ibunda roker Ahmad Albar. Dari perkawinan itu, lahirlah Duma Tando. Mereka bercerai dan kemudian Farida menikah lagi dengan Djamaludin Malik, lalu lahirlah Camelia Malik.

Hasanah adalah salah seorang cucu Muhammad Saleh Datuk Urang Kayo Basa dengan istri keduanya, Banu Idah. Muhammad Saleh dikenal sebagai pedagang besar Pariaman sejak abad ke-19.

Sidi Tando kelahiran 30 Mei 1908, di Kampung Dalam, Pariaman. Nenek Sidi Tando yang bernama Lumut, adalah adik perempuan seayah dengan Muhammad Saleh. Pendidikan Sidi Tando lumayan tinggi di zamannya. Antara 1926 hingga 1931, seperti dicatat Mestika Zed, ia belajar dagang di Handelschool (Sekolah Dagang) Deventer, Belanda. Tidak semua pemuda bumiputra bisa pergi belajar ke Belanda. Butuh beasiswa atau orang tua kaya untuk bisa ke sana.



Sidi Tando, seperti disebut Bisuk Siahaan dalam Industrialisasi di Indonesia: Sejak Hutang Kehormatan sampai Banting Stir (1996:267), terkenal dalam bisnis ekspor impor barang-barang industri. Ia juga mempunyai NV Handel Maatschappij.

Di Jakarta, Sidi Tando terkenal karena mendirikan pabrik cat. Seperti dicatat dalam Republik Indonesia: Kotapradja Djakarta Raya (1953:568), pabrik cat itu dibuka pada 31 Juli 1952 dan dianggap sebagai pabrik cat nasional pertama di Indonesia.

Koran Belanda De Nieuwsgier (02/08/1952) melaporkan, pembukaan pabrik dihadiri oleh sejumlah pejabat sipil dan militer. Menteri Pertanian Sardjan, ayah dari seniman Titi Qadarsih, hadir dalam peresmian itu. Dua orang kepercayaan Sidi Tando, yakni Direktur Pelaksana AC de Sturier dan J Bollegraf, juga hadir dalam peresmian tersebut. 

Pabrik ini setiap bulannya memproduksi 60 ribu kg, baik berupa cat Sidolin, duco Sidoloid, ataupun tinta cetak. Sidi Tando berusaha memasarkan catnya dengan harga murah. Untuk operasional, pabriknya yang meliputi produksi cat dan pengemasanya itu memiliki 80 tenaga ahli.

Pabrik di Jakarta adalah penerus dari pabrik Sidi Tando di Solo ketika revolusi kemerdekaan, yang kata koran De Nieuwsgier dibangun dengan “cara-cara primitive” alias apa adanya dengan nama NV Pabrik Tjat, Tinta, dan Pernis Indonesia. Waktu masih di Solo pada 1947, perusahaan ini dipimpin oleh Zainuddin bin Haji Sidi Tando. Sementara di Jakarta, pabriknya dibuat lebih modern dan diberi nama PT Perseroan Dagang dan Industri Sidi Tando yang beralamat di Jalan Abdul Muis nomor 92.

Dalam sebuah iklan di majalah Legislatif Jaya No. 26, Thn. 1971-1972, disebutkan pabrik yang dipimpin Sidi Tando itu menghasilkan cat rumah luar dalam dengan merek Sidolin, cat kayu besi tahan panas dengan merek Sidolux, cat tembok akrilik dengan merek Sidotex, dan cat untuk mobil dengan merek Sidoloid. Di kemasan cat Sidolin terdapat tulisan: "Buatan kita sendiri".

Setelah terkenal dengan cat bermerek Sidolin, bisnis Sidi Tando kemudian diperluas, termasuk di bidang perkapalan. Sidi Tando punya armada kapal antarpulau. Menurut Richard Robison dalam Indonesia: The Rise of Capital (2009:53), Sidi Tando mulai bergerak di perkapalan pada awal 1960-an. Kapalnya dipergunakan untuk mengangkut barang antara Jawa dengan Sumatra Barat.

Setelah masa-masa keemasan itu, bisnis Sidi Tando berangsur menurun, terutama setelah ia meninggal dunia.

“Sayangnya nama besar Sidi Tando tidak berlanjut pada generasi penerusnya.” Mestika Zed. 

Infografik Sidi Tando 

Sumber : https://tirto.id/kisah-sidi-tando-sang-juragan-cat-nasional-f5ia